Senin, 13 Juli 2026

Perkembangan Sistem Operasi Open Source

root@oss-history:~$ open perkembangan-os-opensource.sh
root@oss-history:~$ cat judul.md

Perkembangan Sistem Operasi
Open Source

// dari kultur hacker era 1960-an, GNU, kelahiran Linux, hingga ekosistem open source hari ini

root@oss-history:~$ cat definisi.md

01 — Apa itu Open Source?

Secara sederhana, open source adalah kode program yang dibuka oleh pengembangnya kepada publik agar bisa dipelajari, diubah, dan disebarluaskan kembali. Jika pembuatnya melarang perubahan atau penyebaran ulang, maka software itu bukan open source — walau kode programnya terlihat.

Perlu dibedakan tiga istilah yang sering tertukar:

FREE SOFTWARE

Kebebasan pengguna dijamin secara filosofis (FSF). Contoh: Linux (GPL) — hasil modifikasi wajib tetap bebas.

OPEN SOURCE

Kode terbuka, tapi lisensinya bisa lebih longgar. Contoh: FreeBSD — boleh diturunkan jadi produk tertutup (mis. Mac OS X).

FREEWARE

Gratis dipakai, tapi kode programnya tertutup. Tidak ada hubungan langsung dengan "kebebasan" ala FSF/OSI.

// aturan main lengkap semua jenis lisensi ada di opensource.org/licenses

root@oss-history:~$ ls lisensi/

02 — Ragam Lisensi Open Source

Klik tiap berkas lisensi untuk membuka isinya:

📄 GPL — GNU Public License

Lisensi utama Free Software Foundation. Memberi kebebasan memakai, melihat, mengubah, dan mendistribusikan ulang — dengan syarat "copyleft": hasil turunannya wajib tetap open source. Dipakai oleh kernel Linux.

📄 LGPL — Lesser GPL

Versi lebih longgar dari GPL, biasa dipakai untuk pustaka (library) agar bisa ditautkan ke software berlisensi tertutup tanpa memaksa software tersebut ikut menjadi open source.

📄 MIT License

Sangat permisif — nyaris tanpa syarat selain mencantumkan notice hak cipta. Turunannya boleh menjadi produk tertutup. Populer di ekosistem JavaScript/Node.

📄 BSD License

Mirip MIT, permisif, tanpa copyleft. Contoh nyata: FreeBSD — dasar dari macOS/Mac OS X yang bahkan bisa menjadi produk komersial tertutup.

📄 Apache License 2.0

Permisif seperti MIT/BSD, tapi menambahkan perlindungan paten secara eksplisit. Banyak dipakai proyek besar seperti Kubernetes dan Android.

root@oss-history:~$ git log --oneline --all

03 — Garis Waktu Singkat

1960–1970-an

Kultur hacker tumbuh di lab komputer Stanford, Berkeley, dan MIT — kode program ditukar bebas antar komunitas kecil pemrogram.

1983–1985

Richard Stallman keluar dari MIT (Januari 1984) lalu mendirikan Free Software Foundation (1985), memulai proyek GNU: gcc, gdb, Emacs, dan lainnya — namun kernelnya sendiri belum rampung.

1991

Linus Torvalds, mahasiswa Universitas Helsinki, melempar kode kernel Linux ke komunitas terbuka untuk dikembangkan bersama.

1994–1995

Server-server di Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai memakai FreeBSD sebagai sistem operasi jaringan/server.

1998

Istilah "open source" resmi dipopulerkan; Open Source Initiative (OSI) berdiri, diinisiasi Eric Raymond dan tim, untuk menyatukan pemahaman soal kode terbuka.

2000-an

Distro turunan Debian bermunculan — Ubuntu, Knoppix, Xandros — memperluas jangkauan Linux ke pengguna umum, bukan hanya server.

2008 dan seterusnya

GitHub lahir, mengubah cara komunitas berkolaborasi lewat Git — pull request menjadi standar baru "menyebarkan kode ke komunitas".

Hari ini

Open source menopang infrastruktur modern: container (Docker), orkestrasi (Kubernetes), cloud native, hingga model AI open-weight — semua mewarisi semangat berbagi kode dari era Stallman dan Torvalds.

root@oss-history:~$ tree distro/

04 — Pohon Keluarga Distro Linux

Semua bermuara pada satu fondasi yang sama: kernel Linux + pustaka GNU glibc.

kernel Linux + GNU glibc
├── Debian → Ubuntu, Knoppix, Xandros
├── RedHat → Fedora, CentOS
├── SuSE
├── Mandrake
└── Slackware
root@oss-history:~$ cat arsip/postingan-asli.bak

📦 Arsip — Konten Asli

// bagian di bawah ini adalah teks, gambar, dan caption dari postingan lama, dipertahankan utuh tanpa perubahan isi.

Open source adalah istilah untuk software yang kode programnya disediakan oleh pengembangnya untuk umum agar dapat dipelajari cara kerjanya, diubah atau dikembangkan lebih lanjut serta untuk disebarluaskan. Apabila pembuat program melarang orang lain untuk mengubah dan atau menyebarluaskan program buatannya, maka program itu bukan open source, meskipun tersedia kode programnya.

Open source merupakan salah satu syarat bahwa suatu software dikatakan Free Software. Free software pasti open source software, namun open source software belum tentu free software. Salah satu contoh free software adalah Linux.

Contoh open source software adalah FreeBSD. Linux yang berlisensi free software tidak dapat diubah menjadi berlisensi tidak free software, sedangkan FreeBSD yang berlisensi open source software dapat diubah menjadi tidak open source.

FreeBSD (open source) merupakan salah satu dasar untuk membuat Mac OSX (tidak open source). http://www.opensource.org/licenses memuat jenis-jenis lisensi open source. Mulai tahun 1994-1995, server-server di Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai menggunakan FreeBSD sebagai sistem operasinya. FreeBSD merupakan sistem operasi open source dan tangguh untuk keamanan jaringan maupun server.

Tetapi kemudian para administrator jaringan di Computer Network Research Group (CNRG) ITB lebih menyukai laptop Mac dengan sistem operasi Mac OS X yang berbasis BSD daripada sistem operasi lain. Istilah open source (kode program terbuka) sendiri baru dipopulerkan tahun 1998.

Namun, sejarah piranti lunak open source sendiri bisa ditarik jauh ke belakang semenjak kultur hacker berkembang di laboratorium-laboratorium komputer di universitas-universitas Amerika seperti Stanford University, University of California Berkeley dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1960 - 1970-an.

Awalnya tumbuh dari suatu komunitas pemrogram yang berjumlah kecil namun sangat erat dimana mereka biasa bertukar kode program, dan setiap orang dapat memodifikasi program yang dibuat orang lain sesuai dengan kepentingannya. Hasil modifikasinya juga mereka sebarkan ke komunitas tersebut.

Perkembangan di atas antara lain dipelopori oleh Richard Stallman dan kawan-kawannya yang mengembangkan banyak aplikasi di komputer DEC PDP-10.

Awal tahun 1980-an komunitas hacker di MIT dan universitas-universitas lain tersebut bubar karena DEC menghentikan PDP-10. Akibatnya banyak aplikasi yang dikembangkan di PDP-10 menjadi banyak yang kadaluarsa. Pengganti PDP-10, seperti VAX dan 68020, memiliki sistem operasi sendiri, dan tidak ada satupun piranti lunak bebas. Pengguna harus menanda-tangani nondisclosure agreement untuk bisa mendapatkan aplikasi yang bisa dijalankan di sistem-sistem operasi ini.

Karena itulah pada Januari 1984 Richard Stallman keluar dari MIT, agar MIT tidak dapat mengklaim piranti-piranti lunak yang dikembangkannya. Tahun 1985 beliau mendirikan organisasi nirlaba Free Software Foundation. Tujuan utama organisasi ini adalah untuk mengembangkan sistem operasi.

Dengan FSF, Stallman telah mengembangkan berbagai piranti lunak : gcc (pengompilasi C), gdb (debugger, Emacs (editor teks) dan perkakas-perkakas lainnya, yang dikenal dengan peranti lunak GNU. Akan tetapi Stallman dan FSFnya hingga sekarang belum berhasil mengembangkan suatu kernel sistem operasi yang menjadi target utamanya.

Ada beberapa penyebab kegagalannya, salah satunya yang mendasar adalah sistem operasi tersebut dikembangkan oleh sekelompok kecil pengembang, dan tidak melibatkan komunitas yang lebih luas dalam pengembangannya.

Pada tahun 1991, seorang mahasiswa S2 Universitas Helsinki, Finlandia mulai mengembangkan suatu sistem operasi yang disebutnya Linux. Dalam pengembangannya Linus Torvalds melempar kode program dari Linux ke komunitas terbuka untuk dikembangkan bersama.

Komunitas Linux terus berkembang dimana kemudian akhirnya melahirkan distribusi-distribusi Linux yang berbeda tetapi mempunyai pondasi yang sama yaitu kernel Linux dan librari GNU glibc seperti RedHat, SuSE, Mandrake, Slackware, Debian dan lainnya.

Beberapa dari distribusi di atas ada yang bertahan dan besar, bahkan sampai menghasilkan distro turunan, contohnya adalah Distro Debian GNU/Linux. Distro ini telah menghasilkan puluhan distro anak, antara lain Ubuntu, Knoppix, Xandros, dan lainnya.

Free Software Foundation (FSF) selain perangkat lunak adalah lisensi GPL (GNU public License), dimana lisensi ini memberi kebebasan bagi penggunanya untuk menggunakan dan melihat kode program, memodifikasi dan mendistribusi ulang peranti lunak tersebut dan juga jaminan kebebasan untuk menjadikan hasil modifikasi tersebut tetap bebas didistribusikan.

Linus Torvalds juga menggunakan lisensi ini dalam pengembangan dasar Linux.

Gambar 1 Linus Torvalds

Seiring dengan semakin stabilnya rilis dari distribusi Linux, semakin meningkat juga minat terhadap peranti lunak yang bebas untuk di sharing seperti Linux dan GNU tersebut, juga meningkatkan kebutuhan untuk mendefinisikan jenis peranti lunak tersebut.

Akan tetapi teminologi free yang dimaksud oleh FSF menimbulkan banyak persepsi dari tiap orang. Sebagian mengartikan kebebasan sebagaimana yang dimaksud dalam GPL, dan sebagian lagi mengartikan untuk arti gratis dalam ekonomi.

Para eksekutif di dunia bisnis juga merasa khawatir karena keberadaan perangkat lunak gratis dianggap aneh. Kondisi ini mendorong munculnya terminologi open source dalam tahun 1998, yang juga mendorong terbentuknya OSI (Open Source Initiative) suatu organisasi nirlaba yang mendorong pemasyarakatan dan penyatuan Open Source, yang diinisiasi oleh Eric Raymond dan timnya.

Beberapa contoh daftar distribusi Linux distributions yang didukung oleh Free Software Foundation ditunjukkan seperti pada Tabel 1 berikut ini.

root@oss-history:~$ history --end

Tidak ada komentar:

Posting Komentar